Rabu, 08 Oktober 2014

Setelah kepergian

Suatu hari aku akan merindukan tatap matamu, saat ternyata aku bukanlah orang yang kau tatap saat itu. Aku harus menerima diri bahwa kenyataan hanya ingin memeluk tubuhku sendiri. Aku harus memahami bahwa lihatmu bukan untukku lagi. Meski ada yang hilang dari pandang, namun tentangmu akan tetap terkenang.

“Ini sudah berakhir!” ucapmu sebelum semuanya seperti ini.
Namun ada yang kau lupa, bahwa apa yang kau sudahi tak pernah benar-benar selesai. Kau buat impianku terbengkalai. Jauh sebelum ini, kita adalah kumpulan mimpi-mimpi yang membentuk pelangi. Hingga pada satu kalimat kau katakan ini sudah selesai.

Bagaimana mungkin kau bisa menyelesaikan semua ini sendiri? Sedangkan kita membangun mimpi-mimpi berdua. Apakah ini pertanda yang mencintaimu selama ini hanya aku? Apakah dua orang yang saling mencintai pada awalnya memang akan berakhir atas ingin salah satu di antaranya?

Jika pada akhirnya jatuh cinta hanyalah menjatuhkan luka. Memang sebaiknya kau pikir berkali-kali sebelum menyakinkan aku adalah orang yang kau cari. Sebab, tak ada kembali setelah mati. Tak ada pulang setelah kau buang. Meski berpisah tak lantas benci, tapi kepergian selalu meninggalkan luka di hati.

DsuperBoy | 08/10/2014

Senin, 06 Oktober 2014

Cukup secukupnya

Hubungan yang baik adalah hubungan yang dijalani dengan porsi secukupnya. Seperti makanan. Kalau saja bahan raciknya dibuat berlebihan, rasanya tidak akan menjadi enak. Begitu pun hubungan kita. Apa pun yang diberikan secara berlebihan akan membuat aku bosan, atau kau yang akan kelelahan.

Aku menyukaimu karena kamu bisa menempatkan diri. Bisa menyimbangi. Bukan mengulang hal yang sama berkali-kali. Kamu tahu? Hal yang sama apabila dilakukan berkali-kali akan  menjadi membosankan. Semisal, kau ingatkan makan; pagi hari, siang hari, malam hari. Seolah aku tidak akan makan kalau tidak kau ingatkan. Dan itu menjadi hal yang membosankan. Aku tahu maksudmu. Kau ingin menunjukan kau peduli padaku. Namun kau melakukannya berlebihan. Andai kau lakukan pada porsinya, itu tetap akan menjadi menyenangkan.

Kau juga harus ingat. Kita punya hidup masing-masing. Kehidupan yang harus kita perjuangkan melalui pekerjaan. Kita harus melakukan kegiatan rutin kita. Dan terkadang kegiatan itu menambah beban kepala. Harusnya kau mengerti. Ada saatnya kau membiarkan aku menikmati hidupku dengan bekerja. Jangan menuntut untukku selalu ada. Bukankah kita masih tetap bisa berkomunikasi. Mungkin porsinya tidak sepanjang hari. Aku juga harus menyelesaikan urusanku.

Kau harus paham. Bahwa impian adalah hal yang harus dicapai. Jika saat aku mengejar impianku saja kau mencurigaiku. Dengan terus mengawasiku. Lalu apakah hubungan kita masih bisa disebut bahagia? Jika terus begini, percayalah salah satu di antara kita akan kelelahan. Semakin hari hubungan kita akan menjadi tumpukan rasa bosan demi bosan.
Banyak pasangan akhirnya berpisah. Karena salah satu dari mereka berubah menjadi berlebihan pada saat  yang tidak seharusnya dia demikian.

DsuperBoy | 06/10/2014

Apa jatuh cinta begini sebuah kesalahan

Sejujurnya aku senang berlama-lama denganmu. Menikmati setiap detik yang menemani detak jantung kita. Suaramu, manjamu, dan semua hal yang kau hadirkan membuatku merasa lebih baik. Seringkali suasana hati yang sedang tak karuan bisa tiba-tiba tenang karenamu. Semakin hari kita semakin nyaman. Dan rasanya aku semakin terikat kepadamu. Ada rasa butuh yang membuatku semakin betah denganmu.

Namun ada sesuatu yang tiba-tiba mendebarkan dadaku lebih kencang. Ada hal yang tiba-tiba mengoyahkan segalanya. Kata nyaman tak lagi terasa seaman dulu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Aku bahkan tidak bisa memercayai diriku sendiri. Aku jatuh hati pada seseorang yang sudah membiarkan hatinya diikat oleh orang lain.

Apakah perasaan ini salah? Adakah cinta yang tumbuh atas kesalahan? Atau memang keadaan yang membuat semua ini menjadi salah. Lalu kenapa ada cinta seperti ini? Pada saat kita bahagia, sementara ada seseorang yang belum kau selesaikan kisahmu dengannnya. Apa semua ini benar-benar membuat kita bahagia?

Aku telah mencari jawaban untuk semua pertanyaan di kepalaku. Namun aku tak menemukan apa pun selain kamu. Tidak ada dia, tidak ada siapa pun yang aku temukan. Lalu apa ini bisa kita sebut cinta? Pada saat yang sama kita sudah melukai dia. Apakah ini yang namanya kebahagiaan? Di saat yang sama kita menghancurkan hati seseorang.

Pada saat begini, aku sama sekali tidak bisa memilih. Pergi meninggalkan orang yang kucintai atau tetap bertahan dan membiarkan orang yang kucintai menyakiti. Aku tahu ini bukan pilihan. Namun jatuh hati padamu pun bukanlah sebuah keinginan. Atau mungkin cinta memang datang dengan cara begini. Menguji apakah kita sanggup bertahan saat salah satu tersakiti.

DsuperBoy | 05/10/2014

Ini cinta, bukan tali yang rapuh

Nanti kau juga akan tahu, bahwa hidup bukan sebuah permainan. Begitu pun hubungan yang kita jalani. Tidak sebuah permainan. Tak ada yang seharusnya kau tarik-ulur, karena aku bukan layangan yang diikat tali kepadamu. Tak ada yang harus kau cari, karena cinta bukan anak kecil yang hilang.

Saat dia memilih pergi. Hampalah hatimu. Tak akan ada lagi aku. Tak akan ada lagi kita. Juga semua rasa akan sirna. Sebab itu hargailah setiap hal yang masih kita punya. Jika belum sepenuhnya mampu melepaskan, jangan pura-pura melepaskan. Apa pun bisa diselesaikan. Kau harus ingat, yang kau buang (meski menurutmu hanya pura-pura) seringkali tidak bisa pulang. Mungkin juga tak pernah lagi ingin pulang.

Aku mencintai pemikiranmu. Yang menjadikan kita menjadi lebih dewasa. Yang menjadikan kita percaya; masih ada cinta yang sesungguhnya. Yang realistis. Yang tidak hanya sekedar menye-menye manis. Jika kau menjadikan hubungan ini sebagai ajang uji-menguji, kau salah. Tak ada ujian dalam hal mencintai. Kita bukan guru dan murid di SD. Kita sepasang kekasih yang terus mencari penyelesaian. Bukan mencari teka-teki, tentang siapa yang benar sendirian.

Barangkali kau sering mendengar. Ada banyak pasangan yang putus tiap sebentar (mungkin teman-temanmu) lalu mereka jadian lagi. Menjalani hubungan seperti biasa lagi. Seolah hubungan mereka lentur. Tidak ada komitmen. Ada masalah sedikit, putus. Emosi sedikit, putus. Lalu pura-pura merasa bersalah. Meminta untuk kembali menyambung cinta. Apa kau tidak pernah berpikir? Jika seutas tali sudah terlalu banyak buhul penghubung (yang putus disambung-sambung lagi) ia tidak akan pernah sekuat semula. Ia akan bisa putus kapan saja, dan kau tidak akan pernah bisa menyambungnya lagi. Dan satu hal lagi yang harus kau tahu. Aku sama sekali tidak pernah ingin menjalani hubungan rapuh (hubungan yang terlalu banyak buhulnya). Karena kita tidak akan sekuat dulu. Dan ketika semua itu terus berlanjut kita hanya menikmati sebuah permainan putus-sambung. Bukan cinta yang utuh untuk menemukan bagaimana menjadi dewasa sebenarnya. Ini tentang bagaimana menjaga hati, bukan seutas tali yang rapuh.

DsuperBoy | 03/10/2014

Bulan-bulan pertama


Aku menemukanmu yang sedang patah hati. Sebenarnya pada saat itu aku juga sedang patah hati. Lalu kita sepakat –dengan perasaan senasib- memilih untuk bersama. Pacaran, istilah yang orang-orang sebut. Meski aku lebih suka menyebutnya dengan kekasih. Sepasang kekasih.
Kita bahagia? Tentu! Setidaknya pada bulan-bulan pertama.

Saat itu aku percaya. Bahwa cinta memang datang pada dua orang yang memiliki kesamaan. Banyak hal yang kita rasa sama. Kita sama-sama mencari sosok penyembuh. Kita sama-sama mencari orang yang lelah merasakan patah hati. Dan terlebih yang membuat kita semakin yakin, kita merasa memiliki nasib yang sama. Dua orang yang patah hati. Terdengar menyedihkan memang. Tapi saat itu kita bahagia. Kita merasa saling membutuhkan.

Namun waktu terus berlalu. Luka di dadamu perlahan sembuh. Aku pun merasa kembali utuh. Aku masih bahagia bisa menjadi kekasihmu. Bertukar kasih berbagi rindu. Namun beberapa hari terakhir aku merasa ada yang lain. Kau ternyata tak seperti dulu lagi. Kita sekarang tak senasib lagi, katamu.
“Ternyata, aku tidak mencintaimu. Aku hanya butuh seseorang saat aku rapuh.” Kau mengatakan dengan raut wajah seolah merasa bersalah.

Sejak saat itu aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kau ternyata tidak butuh teman senasib. Kau hanya butuh penyembuh agar kau kembali utuh. Kau hanya butuh pelarian agar kau kembali bisa berlari mengejar impian.

DsuperBoy | 01/10/2014